Meneliti Standard Kokok Ayam Pelung, Raih Emas

STANDARD KOKOK AYAM PELUNG — Selama ini dalam setiap kontes kokok ayam pelung , penilaian oleh Juri biasanya didasarkan pada penghalaman dan perasaan Sang Juri tersebut. Penilaian tersebut belum memiliki standard yang baku. Hal itu disampaikan oleh Rocky Putra, mahasiswa Fakultas Biologi UGM angkatan 2009 . Pemikiran itulah yang mendasari Rocky melakukan penelitian Bioakustik pada kokok ayam pelung. Hasil penelitian itulah yang mengantarkan Mahasiswa asal Pekanbaru Riau mendapatkan medali emas dalam kompetisi Internasional Engineering Invention & Innovation Exhibition (I-ENVEX) 2013 kategori ICT, multimedia, telecommunications, electricity & electronic, di Kangar, Perlis Malaysia, 16-19 April 2013.

Menurut Rocky bioakustik merupakan ilmu interdisipliner yang mengkombinasikan biologi dan akustik sebagai ranah yang mempelajari penghasilan suara dan komunikasi hewan. Aplikasi bioakustik pada ayam Pelung dapat menjadi salah satu upaya konservasi sumber daya genetik lokal karena dapat menguak misteri kehidupan pada tingkah laku (animal behavior) sehingga dapat menjadi informasi khusus dan spesifik pada berbagai hewan yang terancam punah (endangered species).

Rocky menilai aplikasi bioakustik pada ayam Pelung bisa menjadi perintis upaya konservasi sumber daya genetik lokal yang diharapkan dapat menghasilkan avian vocal database berupa hasil rekaman dan analisis suara berbagai spesies aves di Indonesia sebagai negara megabiodiversitas. Sehingga pada masa datang Indonesia dapat mempunyai bank suara dan kicauan berbagai jenis burung dari Sabang sampai Merauke. “Ini penting mengingat isu biopiracy kian marak mengincar sumber daya genetik Indonesia”,┬Łkatanya.

Penelitian yang dilakukan Rocky selama ini dilakukan di Kebun Pendidikan, Penelitian dan Percobaan Pertanian (KP4) UGM selama 6 bulan. Pada waktu itu ia melakukan percobaan pada 4 Pelung di sana. Penelitian yang menggunakan software Adobe Audition CS 5.5 itu meneliti durasi, intensitas hingga frekuensi suara kokok ayam Pelung. Dari penelitian itu durasi kokok Pelung terlama tercatat 5 detik dengan intensitas 91,84 dB. Rocky menegaskan bahwa penelitiannya ini juga bisa dilakukan pada beberapa jenis hewan lain seperti mamalia laut, serangga hingga katak.

 

Sumber:
http://www.ugm.ac.id/id/post/page?id=5499

Leave a Reply

You might also likeclose